Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pada blog kali ini saya akan mencoba membahas tentang Data Encoding dan Encoding Schemes. tapi sebelum itu mari kita ketahui dulu pengertian dari modulasi.
Modulasi adalah proses
encoding sumber data dalam suatu sinyal carrier dengan frekuensi fc.
Empat kombinasi yang muncul dari komunikasi antara lain :
1. Data digital, sinyal digital
2. Data analog, sinyal digital
3. Data digital, sinyal analog
4. Data analog, sinyal analog
Dari empat kombinasi di atas saya hanya akan membahas No. 1 - 3 dan mungkin pada lain kesempatan untuk No. 4 saya akan membahasnya juga. Langsung saja masuk ke kombinasi pertama :
DATA DIGITAL, SINYAL DIGITAL
NONRETRN TO ZERO (NRZ)
Nonreturn to
Zero-Level (NRZ-L)
suatu kode dimana
tegangan negatif dipakai untuk mewakili suatu binary dan tegangan positif
dipakai untuk mewakili binary lainnya.
•
Dua tegangan yang berbeda antara bit 0 dan bit 1
•
Tegangan konstan selama interval bit
•
Tidak ada transisi yaitu tegangan no return to zero
Contoh:
•
Lebih sering, tegangan negatif untuk satu hasil dan tegangan positif untuk yang lain
Nonreturn to Zero
Inverted (NRZI)
Suatu kode dimana suatu transisi (low ke high atau high ke low)
pada awal suatu bit time akan dikenal sebagai binary '1' untuk bit time tersebut; tidak ada transisi berarti binary '0'. Sehingga NRZI
merupakan salah satu contoh dari differensial encoding.
•
Nonreturn to Zero Inverted (NRZI) dalam kesatuan
•
Pulsa tegangan konstan untuk durasi bit
•
Data dikodekan / diterjemahkan sebagai kehadiran(ada) atau ketiadaan sinyal transisi saat permulaan bit time
•
Transisi (dari rendah ke tinggi atau tinggi ke rendah) merupakan biner 1
•
Tidak ada transisi untuk biner 0
•
Sebagai contoh encoding differential
Keuntungan differensial encoding : lebih kebal
noise, tidak dipengaruhi oleh level tegangan.
Kelemahan dari NRZ-L maupun NRZI :
keterbatasan dalam komponen dc dan kemampuan synchronisasi yang buruk.
Encoding Schemes NRZ
MULTILEVEL BINARY
Kode ini menggunakan lebih dari 2 level sinyal :
Bipolar-AMI
Suatu kode dimana binary '0' diwakili dengan tidak adanya line sinyal dan binary '1' diwakili oleh suatu pulsa positif atau negatif :
•
Satu pulsa menggantikan dalam polaritas
•
Tidak ada kerugian dalam sinkronisasi jika panjang tali (nol masih bermasalah)
•
Mudah mendeteksi error
Pseudoternary
Suatu kode dimana binary '1' diwakili oleh ketiadaan line sinyal dan binary '0' oleh pergantian pulsa-pulsa positif dan negatif.
Keunggulan multilevel binary terhadap NRZ :
kemampuan synchronisasi yang baik, tidak menangkap komponen dc dan pemakaian
bandwidth yang lebih kecil, dapat menampung bit informasi yang lebih.
Kekurangannya dibanding NRZ : diperlukan
receiver yang mampu membedakan 3 level (+A, -A, 0) sehingga membutuhkan lebih
dari 3 db kekuatan sinyal dibandingkan NRZ untuk probabilitas bit error yang sama.
Encoding Schemes Bipolar-AMI and Pseudoternary
BIPHASE
Dua tekniknya yaitu : manchester dan differential
manchester.
Manchester
Suatu kode dimana ada suatu transisi pada
setengah dari tiap periode bit. Tiap bit : transisi low ke high mewakili ‘1′ dan high ke low mewakili
‘0′. Zero dari tinggi ke rendah di pertengahan interval.
Satu dari rendah ke tinggi di pertengahan interval :
•
Transisi di tengah untuk tiap periode bit
•
Perpindahan transisi sebagai clock dan data
•
Rendah ke tinggi menggambarkan nol
•
Tinggi ke rendah menggambarkan zero
•
Digunakan IEEE 802.3.
Differential
Manchester
Suatu kode dimana binary ‘0′ diwakili oleh
adanya transisi di awal periode suatu bit dan binary ‘1′ diwakili oleh ketiadaan transisi di
awal periode suatu bit. Zero Transisi di pertengahan interval. Satu tidak ada
transisi di permulaan interval :
•
Transisi Midbit adalah hanya clocking
•
Transisi dimulai saat periode bit
menggambarkan zero
•
Tidak ada transisi yang dimulia saat periode
bit dalam menggambarkan nol
•
Catatan : ini adalah pola differential
encoding
•
Digunakan IEEE 802.5
Encoding Schemes Manchester
Encoding Schemes Differential Manchester
Keuntungan
rancangan biphase :
•
Synchronisasi : karena adanya transisi selama
tiap bit time, receiver dapat men-synchron-kan pada transis tersebut atau
dikenal sebagai self clocking codes.
•
Tidak ada komponen dc.
•
Deteksi terhadap error : ketiadaan dari
transisi yang diharapkan, dapat dipakai untuk mendeteksi error.
Kekurangannya
:
•
memakai bandwidth yang lebih lebar dari pada
multilevel binary.
TEKNIK SCRAMBLING
Teknik biphase
memerlukan kecepatan pensinyalan yang tinggi relatif terhadap data rate sehingga lebih mahal pada aplikasi jarak jauh sehingga digunakan Teknik scrambling dimana serangkaian level tegangan yang tetap
pada line digantikan dengan serangkaian pengisi yang akan melengkapi transisi yang cukup
untuk clock receiver mempertahankan synchronisasi.
•
Penggunaan Scrambling untuk menggantikan
rangkaian yang menghasilkan tegangan konstan.
•
Rangkaian Filling
–
Harus cukup menghasilkan transisi untuk
sinkronisasi
–
Harus dapat diakui oleh receiver dan
digantikan dengan yang asli
–
Panjang sama dengan yang asli
•
Tidak ada komponen dc
•
Tidak ada rangkaian panjang pada saluran
sinyal level zero
•
Tidak ada penurunan pada kecepatan data
•
Kemampuan pendeteksian error.
Bipolar with
8-Zeros Substitution (B8ZS)
yaitu suatu kode
dimana :
•
Penggantian Bipolar With 8 Zeros
•
Didasarkan pada bipolar-AMI
•
Jika octet pada semua zero dan pulsa terakhir
tegangan yang terdahulu adalah encode positif sebagai 000+-0-+
•
Jika octet pada semua zero dan pulsa terakhir
tegangan yang terdahulu adalah encode negatif sebagai 000-+0+-
•
Karena dua pelanggaran pada kode AMI
•
Tidak mungkin untuk terjadi seperti hasil
noise
•
Receiver mendeteksi dan menerjemahkan seperti
octed pada semua zero.
High-density
bipolar-3 zeros (HDB3)
Suatu kode dimana menggantikan string-string dari 4 nol dengan rangkaian yang
mengandung satu atau dua pulsa atau disebut kode violation, jika violation terakhir positif maka violation ini pasti negatif dan sebaliknya.
Tabel 1 Aturan
Subtitusi HDB3
Kedua kode ini
berdasarkan pada penggunaan AMI encoding dan cocok untuk transmisi dengan data rate tinggi.
•
Kepadatan tinggi Bipolar 3 Zeros.
•
Didasarkan pada bipolar-AMI.
•
String pada empat zero digantikan dengan satu atau dua pulsa.
Encoding Schemes B8ZS dan HDB3
DATA DIGITAL,
SINYAL ANALOG
Transmisi data digital dengan menggunakan sinyal analog. Contoh umum yaitu public telephone network (300 Hz – 3400 Hz), device yang dipakai yaitu modem (modulatordemodulator) yang mengubah data digital ke sinyal analog (modulator) dan sebaliknya mengubah sinyal analog menjadi data digital (demodulator).
TEKNIK-TEKNIK
ENCODING
Tiga teknik dasar
encoding atau modulasi untuk mengubah data digital menjadi sinyal analog, antara lain :
•
Amplitude shift keying (ASK)
•
Frequency shift keying (FSK)
•
Phase shift keying (PSK)
Amplitude Shift
Keying (ASK)
•
dua binary diwakilkan dengan dua amplitudo
frekuensi carrier (pembawa) yang berbeda (Hasil diwakili oleh perbedaan amplitudo pada carrier)
•
Selalu, satu (sinyal carrier) amplitudo adalah zero
–
Yakni,kehadiran dan ketidakhadiran pada
carrier adalah digunakan
•
Rentan untuk pergantian gain tiba-tiba
•
Tidak efisien
•
Sampai dengan 1200 bps pada voice grade line, digunakan pada fiber optik.
Frequency Shift
Keying (FSK)
Dua binary diwakilkan dengan dua frekuensi berbeda yang dekat dengan frekuensi carrier
lihat gambar 1 dimana terdapat dua frekuensi center untuk komunikasi full-duplex;
pada salah satu
arah (dapat transmisi atau menerima) , frekuensi centernya (f1) =
1170 Hz dengan
lebar 100 Hz pada setiap sisinya (bandwidth = 200 Hz) sedangkan
arah lainya,
frekuensi centernya (f2) = 2125 Hz dengan
lebar 100 Hz pada
setiap sisinya (bandwidth = 200 Hz); sulit untuk terkena noise
dibandingka n
ASK;
data rate dapat
mencapai 1200 bps pada voice-grade line; dipakai untuk transmisi
radio frekuensi
tinggi dan juga local network dengan frekuensi tinggi yang memakai
kabel koaksial.
FSK pada Voice Grade Line
Gambar 1 Transmisi
FSK full-duplex pada line voice grade
Phase Shift
Keying (PSK)
Binary 0 diwakilkan dengan mengirim suatu sinyal dengan fase yang sama terhadap sinyal yang dikirim sebelumnya dan binary 1 diwakilkan dengan mengirim suatu sinyal dengan fase berlawanan terhadap sinyal yang
dikirim sebelumnya,
bila elemen
pensinyalan mewakili lebih dari satu bit, maka bandwidth yang dipakai lebih efisien, sebagai contoh quadrature phase-shift keying (QPSK) memakai beda fase setiap 90.
sehingga tiap
elemen sinyal mewakili 2 bit; jadi terdapat 12 sudut fase yang memakai modem standart 9600 bps.
Encoding
Schemes ASK, FSK dan PSK
DATA ANALOG, SINYAL
DIGITAL
Transformasi data analog ke sinyal digital, proses ini dikenal sebagai digitalisasi.
Tiga hal yang
paling umum terjadi setelah proses digitalisasi :
1. Data digital dapat ditransmisi menggunakan NRZ-L.
2. Data digital dapat di-encode sebagai sinyal digital memakai kode selain
NRZ-L. Dengan demikian, diperlukan step tambahan.
3. Data digital dapat diubah menjadi sinyal analog, menggunakan salah satu Teknik modulasi dalam section 3.2.
Codec (coder-decoder) adalah device yang digunakan untuk mengubah data analog
menjadi bentuk
digital untuk transmisi, dan kemudian mendapatkan kembali data analog asal dari data digital tersebut.
Dua teknik yang
digunakan dalam codec :
•
Pulse Code Modulation (PCM)
•
Delta Code Modulation (DCM)
PULSE CODE MODULATION (PCM)
•
Jika sinyal diambil pada interval regular kecepatannya lebih tinggi daripada kedua sinyal frekuensi, sample menahan banyak informasi pada sinyal original
–
(Proof - Stallings appendix 4A)
•
Batas data voice(suara) sampai 4000Hz
•
Membutuhkan 8000 sample tiap detik
•
Sample-sample analog (Pulse Amplitude Modulation, PAM)
•
Tiap sample diberikan nilai digital Sistem 4 bit memberi 16 level
•
Kualitas
–
Kualitas error atau noise
–
Kira-kira diartikan dimungkinkan untuk menutup kembali ketepatan original
•
8 bit sample memberi 256 level
•
Perbandingn kualitas dengan transmisi analog
•
8000 samples tiap detik pada tiap 8 bit
memberi 64kbps
PCM Example
DELTA MODULATION
(DM)
•
Input analog kira-kira seperti fungsi tangga rumah
•
Perpindahan naik atau turun satu level (δ) pada tiap sample interval
•
Binary behavior
–
Fungsi perpindahan naik atau turun satu level pada tiap sample interval
DM Example
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Referensi :
Setiyo, M. Dwi.2015.”Makalah Komunikasi Data Teknik Encoding”.Universitas
PGRI Malang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar